KKP Kenalkan Pengembangan “Lele Bioflok” ke Lingkungan Pesantren

18 May 2017

Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (Ditjen PB) akan menerapkan inovasi budidaya ikan lele | PT Kontak Perkasa Futures Cabang Yogyakarta

 

Sementara itu, pada kegiatan Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XV di Banda Aceh pada tanggal 6 – 11 Mei 2017 lalu, Ditjen Perikanan Budidaya telah memperkenalkan teknologi budidaya ikan lele sistem bioflok kepada masyarakat Aceh. KKP menampilkan 8 kolam bulat ukuran diameter 3 meter berisi ikan lele berbagai ukuran mulai dari 625 ekor/kg, 10 – 15 ekor/kg, hingga 8 – 10 ekor/kg, kepadatan 1000 ekor/m3, lengkap dengan sistem aerasi, contoh probiotik, dan layanan konsultasi. Sistem bioflok tersebut juga dipadukan dengan budidaya sayuran dengan teknologi hidroponik memanfaatkan air dari kolam budidaya bioflok tersebut.

Kegiatan ini, mendapatkan sambutan yang luar biasa dari masyarakat yang berkunjung ke lokasi budidaya lele sistem bioflok di arena Expo Aquaculture PENAS XV.

Tak sedikit pengunjung yang tertarik untuk mencoba melakukan budidaya ikan lele sistem bioflok ini, setelah mengetahui keuntungan dan kelebihannya.

Rifal misalnya, ia mengaku selama ini hanya dapat menyaksikan dan mengetahui teknologi budidaya sistem bioflok dari youtube dan merasa sangat beruntung dapat melihat dan belajar secara langsung. Pria yang telah melakukan budidaya ikan di kolam tanah ini mengaku, akan mencoba menerapkan teknologi ini.

Ia berharap agar teknologi budidaya sistem bioflok ini, dapat diterapkan masyarakat Aceh, sehingga produksi dan keuntungan yang diperoleh dapat meningkat. (Humas DJPB/AFN).

Untuk itu, KKP juga akan menggandeng pihak lain seperti Perguruan Tinggi, LSM, maupun lembaga lain untuk turut serta melakukan pembinaan dan pendampingan teknologi, sehingga usaha akan berkesinambungan. KKP juga berencana untuk menggandeng organisasi kegamaan dalam hal ini PP Muhammadyah dan Nahdlatul Ulama (NU), untuk bekerjasama dalam program pengembangan lele bioflok ini. “Dua organisisasi keagamaan terbesar di negeri ini diharapkan akan menjadi motor khususnya dalam penguatan kelembagaan dan manajemen usahanya,” pungkas Slamet.

Sementara itu, secara nasional target ikan lele diproyeksikan sebesar 1,39 juta ton, dimana realisasi hingga triwulan 1 mencapai 225 ribu ton.

Salah satu pesantren yang telah melakukan teknologi ini adalah pesantren Andalusia di Kabupaten Banjarnegara. Pesantren ini juga telah menjadi model bagi kalangan masyarakat di Banjarnegara maupun daerah lain. “Tentunya ini menjadi salah satu poin positif untuk memicu keberhasilan yang sama di daerah lain.

Ke depan, seiring berjalannya usaha ini, di setiap pondok pesantren diharapkan akan terfasilitasi pembentukan kelembagaan penunjang semisal koperasi, dengan begitu usaha akan berkesinambungan,” tambah Slamet.

Kedua, meningkatnya konsumsi ikan per kapita di kalangan masyarakat pondok pesantren. Sebagaimana diketahui, tingkat konsumsi ikan dikalangan para santri masih rendah yaitu hanya sekitar 9,6 kg per kapita/tahun. Dengan adanya program ini, diharapkan akan mampu mendorong tingkat konsumsi ikan di kalangan santri sampai 15 kg per kapita/tahun, sehingga secara langsung akan meningkatkan perbaikan gizi. Setidaknya, dukungan awal ini diharapkan dapat memicu frekwensi konsumsi ikan di Pondok Pesantren yang semula kurang dari 1 kali dalam seminggu, menjadi paling tidak 2 kali dalam seminggu.

Khusus dukungan pada pondok pesantren, Slamet berharap akan dapat memberdayakan setidaknya sekitar 78.500 orang santri. Dijelaskan Slamet, ada 2 (dua) outcome yang diharapkan dapat dicapai dengan mendorong program ini, yaitu: Pertama, terwujudnya pergerakan ekonomi di pondok pesantren dan yayasan, taitu dengan memicu terbentuknya kelembagaan penunjang seperti koperasi. Dukungan ini diharapkan akan mampu menghasilkan produksi ikan lele konsumsi sebanyak 370,8 ton per siklus atau 1.452 ton, dengan nilai ekonomi produksi sebesar 21,78 milyar per tahun, dengan angka tenaga kerja yang dapat terlibat mencapai 1.030 orang.

Slamet menambahkan, tahun ini KKP akan mengalokasikan dukungan sebanyak 103 paket, dengan rincian 71 paket dari pusat dan 32 paket dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang akan diberikan terhadap 73 pondok pesantren, 12 kelompok pembudidaya, dan 2 lembaga pendidikan yang tersebar di 16 Provinsi, termasuk diantaranya adalah wilayah perbatasan yaitu Provinsi NTT (Kab. Belu), Provinsi Papua (Kab. Sarmi dan Wamena), dan Provinsi Kalimantan Utara (Kab. Nunukan). Masing-masing dukungan tersebut terdiri dari 12 kolam dengan diameter 3 meter, benih lele, pakan dan obat ikan, probiotik, dan sarana operasional. Realisasi ditargetkan selesai akhir Mei ini.

“Kita punya tanggunjawab moral untuk membangun pesantren, bukan hanya secara ekonomi saja, namun juga bagaimana turut serta dalam meningkatkan kualitas SDM yang ada. Dengan mulai memperkenalkan ikan sebagai sumber pangan bagi mereka, kita ingin generasi muda di lingkungan pondok pesantren lebih cerdas dengan mulai membiasakan mengkonsumsi ikan,” ungkap Slamet dalam konferensi pers bertema “Budidaya Ikan Lele Sistem Bioflok untuk Peningkatan Ketahanan Pangan” di GMB IV, Kantor KKP, Jakarta, Rabu (17/5).

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya (Dirjen PB) Slamet Soebjakto menyampaikan, pondok pesantren sebagai lembaga non-formal merupakan lingkungan yang efektif untuk pengembangan usaha, sehingga pengenalan usaha lele bioflok ini diharapkan akan mampu mewujudkan pemberdayaan umat, sebagaimana pesan yang disampaikan Presiden Joko Widodo.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (Ditjen PB) akan menerapkan inovasi budidaya ikan lele menggunakan teknologi sistem bioflok demi mendorong ketahanan pangan Indonesia. Untuk itu, Ditjen PB akan melirik lingkungan pondok pesantren sebagai sasaran pengembangan teknologi tersebut, melalui program “Bioflok Masuk Pesantren”.

Penuhi Kebutuhan Gizi Masyarakat, KKP Populerkan Inovasi Teknologi “Lele Bioflok” | PT Kontak Perkasa Futures Cabang Yogyakarta

 

Semua pelaku perikanan budidaya harus berkreasi mengedepankan Iptek dalam pengelolaan usaha budidaya ikan. Intinya dengan kondisi saat ini, produktivitas budidaya harus bisa dipacu dalam lahan terbatas dan dengan penggunaan sumberdaya air yang efisien,” jelas Slamet dalam konferensi pers di GMB IV, Kantor KKP, Jakarta, Rabu (17/5).

Ditjen Perikanan Budidaya telah melakukan upaya pengembangan Iptek budidaya dan terbukti berhasil, salah satunya yaitu inovasi teknologi budidaya lele sistem bioflok. Teknologi sistem bioflok menjadi sangat popular saat ini, karena mampu mengenjot produktivitas lele dengan penggunaan lahan yang tidak terlalu luas, dan hemat sumber air. Sebagai gambaran, teknologi ini merupakan bentuk rekayasa lingkungan yang mengandalkan suplai oksigen dan pemanfaatan mikroorganisme, yang secara langsung dapat meningkatkan nilai kecernaan pakan. “Bioflok ini menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, apalagi saat ini produk lele sangat memasyarakat sebagai sumber gizi yang digemari,” imbuh Slamet.

Sebelumnya, dalam ajang Festival Kuliner Ikan Nusantara, Menteri Susi Pudjiastuti mengimbau masyarakat untuk mulai melirik ikan sebagai konsumsi harian. Menteri Susi menilai, tingkat konsumsi ikan masyarakat Indonesia masih jauh lebih rendah dibanding negara lain, bahkan di level ASEAN sekali pun. Padahal menurutnya, ikan merupakan sumber protein yang berperan penting dalam meningkatkan kualitas kecerdasan generasi bangsa ini.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto menyampaikan, untuk mencukupi kebutuhan pangan nasional yang semakin tinggi, KKP perlu melakukan intensifikasi teknologi yang efektif dan efisien. Menurut Slamet, upaya mewujudkan ketahanan pangan mau tidak mau harus berhadapan dengan fenomena perubahan iklim dan penurunan kualitas lingkungan global. Di sisi lain, perkembangan sektor industri dan ledakan jumlah penduduk, juga turut memberikan kontribusi dalam mereduksi lahan sektor yang berbasis pangan.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus berupaya menopang ketahanan pangan nasional dengan produk pangan berbahan ikan. Produk ikan kini mulai menjadi andalan, seiring terjadinya pergeseran pola konsumsi masyarakat dari protein berbasis daging merah pada protein daging putih (ikan). KKP memproyeksikan, sampai dengan tahun 2019 tingkat konsumsi ikan sebesar > 50 kg per kapita per tahun. Dengan target tersebut setidaknya dibutuhkan suplai ikan sebanyak ± 14,6 juta ton per tahun, di mana, 60 persen dari angka ini diprediksi akan bergantung pada hasil produksi budidaya.

 

Budidaya Teknologi Lele Bioflok Genjot Produktivitas Hingga Tiga Kali Lipat | PT Kontak Perkasa Futures Cabang Yogyakarta

 

“Tentunya ini adalah bentuk keberhasilan inovasi teknlogi budidaya, dan sekaligus menjadi jawaban tepat bagaimana memenuhi kebutuhan pangan masyarakat saat ini. Inovasi teknologi harus mampu menjawab tantangan dan masalah, serta mampu memanfaatkan peluang yang ada,” ujar Slamet.

Ia mengatakan bahwa Teknologi system bioflok menjadi sangat popular saat ini, karena mampu mengenjot produktivitas lele yang tinggi, penggunaan lahan yang tidak terlalu luas dan hemat sumber air.

Ia juga menjelaskan, dari segi itung-itungan bisnis, usaha ini juga sangat profitable. “Sebagai gambaran dalam 1 unit usaha (25 lubang kolam diameter 3 m), akan menghasilkan produksi sebanyak 7,5 ton per siklus, dengan kata lain pembudidaya dapat meraup pendapatan sekitar 420 juta per tahun atau sekitar 35 juta per bulan,” katanya.

Salah satu kelebihan lain, pengembangan lele bioflok juga dapat diintegrasikan dengan system hidroponik, secara teknis air buangan limbah budidaya yang mengandung mikroba dapat dimanfaatkan sebagai pupuk yang baik bagi sayuran.

Di samping itu penggunaan pakan lebih efisien, jika pada teknologi konvensional FCR rata-rata 1,2 maka dengan teknologi bioflok FCR dapat mencapai 0,8.

Di banyak daerah teknologi lele bioflok terbukti sangat efisien, sebagai ilustrasi dengan rata-rata padat tebar 1.000 ekor/m3, maka dalam satu kolam bulat ukuran diameter 3 m, dapat ditebar benih lele sebanyak min.

3.000 ekor, dan mampu menghasilkan lele konsumsi mencapai > 300 kg per siklus (100-110 hari).
“Artinya jika dibanding dengan teknologi konvensional, budidaya sistem bioflok ini mampu menaikan produktivitas 3 kali lipat,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa sebagai perbandingan, untuk budidaya dengan sistem konvensional dengan padat tebar 100 ekor/m3 memerlukan 120-130 hari untuk panen, sedangkan untuk sistem bioflok dengan padat tebar 500-1000 ekor/m3 hanya membutuhkan 100-110 hari saja.

“Peningkatan hasilnya cukup signifikan bisa mencapai tiga kali lipat dari cara budidaya konvensional,” kata Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan(KKP), Slamet Soebjakto di Jakarta, Rabu (17/5).

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Slamet Soebjakto, mengatakan bahwa penerapan teknologi Bioflok mampu mendongkrak produktivitas hasil di sektor budidaya hingga tiga kali lipat bila dibandingkan dengan cara budidaya konvensional.

 

 

 

PT Kontak Perkasa Futures


TAGS PT Kontak Perkasa Futures PT Kontak Perkasa Kontak Perkasa Futures Bisnis


-

PT Kontak Perkasa Futures


Follow Me